The Elevator


The Elevator - Dan aku selalu tertawa mendengar semua cerita omong kosong itu. Ya, mana ada lift membawa orang-orang di dalamnya menghilang entah kemana dan tak pernah kembali lagi, dari ceritanya sih aku pernah dengar mereka dibawa ke dunia lain. Dasar otak bocah terlalu percaya dengan cerita bodoh seperti itu.

Teman-teman sekantorku masih saja membahas beberapa orang yang menghilang akhir minggu lalu. Kalian tahu, aku bosan mendengarnya. Bisa jadi mereka resign tanpa alasan dan mengganti nomor handphonenya sehingga berkesan menghilang. Atau mungkin dia kecelakaan dan lupa ingatan, hahaha prediksi yang bodoh dariku. Yang jelas aku tetap tidak percaya dengan semua omongan gila itu.

“Hai Cath, sekarang sudah jam pulang, apa kau overtime lagi?” tepuk Martha di pundakku yang membuyarkan konsentrasiku di layar komputer,
“sepertinya begitu, beberapa tugasku belum selesai, lebih baik kau pulang dulua, nanti aku bisa pulang naik taksi, terima kasih tumpangannya tadi pagi” senyumku lembut,
“ok lah, semoga pekerjaanmu cepat selesai” ucap Martha sambil berlalu.

Ya, tugas menumpuk karena 3 hari lalu aku sempat terkena flu dan demam yang menyebabkan aku harus absen kerja, juga beberapa file yang hampir saja aku kehilangan alurnya. Namun akhirnya masih bisa kutelusuri.

Pukul 21.05, kuputuskan untuk berkemas dan segera turun dari lantai 11 ini. Aku menghela nafas, akhirnya 70% dari tugasku bisa terkerjakan, tinggal 30% nya saja yang besok siang harus ku selesaikan. Jaket coklat kesayanganku ditambah syal corak putih hitam menambah hangat malam dingin ini, apalagi AC di ruangan tadi yang membuat permukaan kulitku menggigil.

Masih ada segelintir orang di kantor, beberapa staff dan back office masih overtime, mungkin membahas rencana pendataan aktifitas buat besok. Ah, bukan bagianku, yang jelas aku tumpukan tugasku tadi sudah hampir selesai.

Kutekan tombol turun di dinding sebelah lift, menunggu untuk beberapa menit sampai lift bertengger di lantai 11. Pintunya terbuka, kulangkahkan kaki masuk ke kotak besi ini. Seorang diri di lift ini adalah hal wajar seperti biasanya turun dan terus turun sampai ke lantai G.

10, 9, 8, 7, 6, 5, 4
“ting” berhenti di lantai 4, saat pintu lift terbuka serasa udara dingin ikut masuk, gelap, tak terlihat seorangpun di luar sana, kutekan kembali tombol close. Toh siapa juga yang ingin turun di lantai 4.
3, 2, M, G
“ting” nah saat nya kali ini kulangkahkan kaki keluar dan menunggu taksi di lobby.

***

Masih terlalu pagi aku bangun, boss sialan kenapa harus ada meeting mendadak dan memanggilku untuk datang di pukul 6.15. Aku bersiap untuk mandi dan langsung berangkat ke kantor. Pukul 6.07 aku sudah sampai di lobby dan segera berlari menuju lift, kutekan angka 11.

G, M, 2, 3, 5

sebentar, bukankan semalam lift sempat berhenti di lantai 4?, seharusnya tidak ada lantai 4 di gedung ini, ah mungkin semalam aku hanya salah lihat.

6, 7, 8, 9, 10,

Satu lantai lagi aku sampai di kantor, ku rapikan rambut yg tadi sempat acak-acakan karena berlarian.

“ting” pintu lift terbuka, masih sangat sepi dan wajar karena masih jauh dari jam kerja, kulihat ke arah resepsionis, eits maaf sepertinya aku salah lantai ini bukan kantorku, kutekan kembali lift, kutunggu namun tak kunjung terbuka. Kulihat sekeliling tertera papan kecil bertuliskan “4th” itu artinya aku ada di lantai 4 yg seharusnya tidak ada di gedung ini, aneh.

Kubuka handphoneku bermaksud menghubungi boss untuk memberitahunya mungkin aku sedikit telat untuk hadiri meeting, sial ternyata pulsaku habis, pintu lift pun tak kunjung terbuka.

Angin berhembus dari arah belakang, tercium sedikit aroma tidak sedap, tapi sepertinya aku tidak asing dengan aroma ini, kalau tidak salah ini bau gas, kutengok belakangku dan ledakan besarpun terjadi, api membakar tubuhku, panasnya sungguh kuar biasa dan aku pun tak bisa melihat apa-apa lagi, semua menjadi gelap.

***

Aku terkejut, mata terbuka dan tubuhku penuh keringat dingin, ternyata aku masih di kasur kamar kesayanganku, semuanya sungguh terasa nyata. Kubuka handphone dan melihat ada 1 panggilan tak terjawab dan 1 pesan masuk, ternyata dari boss.

Boss
Selasa, 12.08.2004 05.30
Hi Cath, hari ini ada meeting mendadak, kuharap kau segera datang sebelum pukul 06.15

6.15? Apa artinya ini, dengan langkah takut aku mematuhi perintah boss, segera mandi dan berdandan lalu siap berangkat ke kantor.

G, M, 2, 3, 5, 6, 7, 8, 9, 10,

Kurapikan rambutku, bersiap melangkah keluar setelah sampai di lantai 11.

“ting” pintu lift terbuka dan keadaan memang masih sepi, kepalaku melongok keluar dan melihat sekeliling, syukurlah lantai ini benar kantorku Lt. 11 – PT. Exima Arthanuansa. Di resepsionis pun sudah ada nona penjaganya.

Aku segera melangkah ke ruangan, menaruh jacket dan tas LV hitam kesayanganku. Sepertinya masih cukup waktu untuk ke toilet dan membenahi make up ku yang sedikit luntur akibat keringat.

Selesai sudah aku berdandan, keluar dari toilet dan inilah yang membuatku bingung, saat kubuka pintu toilet diluar sangatlah gelap, jarak pandang pun hanya bisa melihat sekitar 1,5 meter kedepan. Untung saja di dalam kantong make up ku ada korek api yang biasa aku gunakan merokok, di dasar korek nya ada lampu LED yg berfungsi sebagai senter.

Tidak seberapa terang, semua akses pintu terkunci, lift juga mati, pintu utama juga terkunci, di resepsionis pun tak ada nona penjaganya, setidaknya aku tau cara membuka pintu utama, kutekan satu tombol bertuliskan “left door”, haha bodohnya aku, listrik kan sedang padam pastilah tetap tidak bisa terbuka. Ini map kantorku di lantai 11 :

Sekarang aku berada diantara lift, hanya satu pintu yang tak pernah terkunci, pintu tembusan dari pantry ke jalan utama, ya sebaiknya aku lewat sana. Berjalan sendirian di kegelapan, namun yang ku herankan kemana perginya orang-orang tak ada satupun terlihat di dalam kantor, atau mereka sengaja mengerjaiku seperti ini. Awas kau boss, lelucon yang tidak lucu sama sekali.

Ketukan sepatuku di lantai menggema kemana-mana seakan berada di ruangan kosong yang tak pernah berisi, akhirnya sebelum masuk ke pintu pantry ada seseorang juga disana.

“Hi tuan, kenapa semua lampunya padam?” tanyaku sambil mempercepat langkah mendekatinya, dia berjalan mendekatiku, langkahnya sempoyongan, semakin mendekat semakin jelas karena sorot dari lampu senter yang ku genggam,

“Kyaaaaaaa!!!” aku teriak sekencangnya dan berbelok lari kembali menuju toilet, kalian tau apa yang aku lihat? Pria berlumur darah itu sangat menjijikan, tak ada sisa kepalanya selain dari rahang bawah ke lehernya, rahang atas hingga kepala bagian atasnya tak ada sisa lagi, darah terus mengucur dari belahan sisa rahang bawahnya itu.

“Cath, ada apa, kenapa kau tiba-tiba teriak seperti itu?”
“Martha?, kenapa kau ada disini?”
“Harusnya aku yang bertanya kenapa kau berteriak begitu kencang di toilet dan membuat kaget orang-orang, kau lihat? Di depan pintu mereka semua memperhatikanmu, aku yang mendengarmu berteriak langsung berlari menuju toilet”
“ehm..” aku kebingungan,
“kudengar dari resepsionis hari ini kau datang sangat awal, ada apa?” uluran tangannya membantuku berdiri yang sedari tadi jongkok di bawah washtafel.
“nanti aku ceritakan kepadamu, lebih baik kau suruh mereka semua pergi dan jangan mengerumuniku” pintaku pelan kepada Martha,

Setelah semua pergi dan aku kembali berjalan dengan gadis cantik berambut lurus ini menuju keruangan semuanya terasa normal tak terlihat tanda-tanda janggal di sekelilingku. Ku sempatkan bertanya kepada resepsionis dan dia bilang daritadi keadaan normal-normal saja, tak ada listrik padam dan sebagainya. Rasanya aku mendapati mimpi buruk lagi.

“Jadi, apa alasanmu datang begitu pagi?” tanya Martha sambil menyodorkan segelas air putih,
“Aku dapat pesan singkat dari boss untuk datang lebih awal karena ada meeting pukul 6.15,”
“meeting? Hi Cath, tidak ada jadwal meeting hari ini, bahkan boss pun belum datang.” Martha mengerutkan kulit dahinya.
“tapi aku bisa buktikan ada pesan dari dia” kubongkar tasku dan mengambil handphone di dalamnya, saat kubuka kotak masuk kudapati ternyata tak ada sms ataupun panggilan masuk tadi pagi. Aneh, aku semakin bingung.
“Mana? Mungkin kau mengigau”
“Martha, sepertinya ada yang aneh, ada yang sengaja mengundangku kemari”

***

Hari itu berjalan seperti biasanya, hanya saja bayangan tentang beberapa hal tadi menambah sedikit beban di kepalaku. 30% sisa tugas yang seharusnya Cuma beberapa jam saja bisa terselesaikan jadi seharian baru kelar.

Pandanganku sedikit kabur, kubawa langkahku menuju toilet untuk membasuh muka, berbelok ke pantry dan membuat secangkir coklat panas yang mungkin bisa membantu menenangkan pikiranku. Terbesit sedikit bayangan di otakku tentang makhluk itu, haha untung hanya bayangan alam bawah sadarku.

Coklat panas memang paling cocok untuk menenangkan pikiran di tengah dinginnya ruangan yang meniup di setiap bagian tubuhku yang terbuka. Kurebahkan kembali punggungku ke sandaran kursi, melirik di sekitar ruangan dan membayangkannya bila sasja tiba-tiba listrik padam dan keadaan menjadi sunyi seperti tadi pagi, hiii... jangan sampai lah aku rasakan lagi.

Melihat langkah setiap detik jarum jam sambil menunggu jam pulang kerja ditemani secangkir coklat hangat yang mulai mendingin, setiap hela nafas pun terasa hangat. Menggantung tas LV yang berisi make up dan beberapa tools kerja di lipatan tangan ku lalu melantunkan dentuman bunyi sepatu sambil beranjak ke muka lift.

Mungkin bayangan mimpi buruk tadi pagi masih membayangiku dan membuat alam bawah sadarku menerjemahkannya menjadi jenis traumatis. Hah, masa bodoh lah, aku di dunia rasional bukan dunia mimpi yang penuh dengan scenario yang membingungkan. Aku menekan tombol G dan berdiri mematung menunggu lift sampai di pijakan lantai yang dituju, bersama sekitar 5 orang lainnya yang juga menuju lantai berlainan.

“ting” sampai juga akhirnya di lantai G. Beberapa langkah kedepan saja aku baru ingat, handphone ku tertinggal di laci meja kerja, hah... mau tidak mau aku harus balik ke lantai 11, capek... hahaha. Berbalik badan melangkah kembali masuk ke dalam lift dan menunggu lift naik kembali ke lantai 11.

G, M, 2,

Turun daya? Aku benci ini, terkunci di dalam lift dan lampunya juga padam, kutekan tombol darurat untuk memanggil petugas.

“hiii.... tolong, liftnya mati, petugas bisakah kau bantu segera perbaiki lift nya?”
“krak srakk.. krassssaakkk” suara jawaban dari luar sana,
“haloooo...” ku sapa lagi orang diluar sana,
“ngiiiiiiiiinnnnnnggg...” suara balasan dari sebrang membuat telingaku sakit,

Warna putih lampu menyala lagi, sialan saja memperlambat jam pulang kerjaku. Seharusnya mungkin aku sudah sampai setengah perjalanan. Lift mulai naik lagi serasa seperti hanyut di atas kapal yang tergoyang ombak.

3, 4,

“ting...” suara bell lift berbunyi, lho kok ada lantai 4 lagi? Keringatku bercucur dingin, udara dingin melahap tubuhku, menambah dingin buliran air yang keluar dari setiap pori-pori kulitku. Tanpa kusadari gelap mulai menelan penglihatanku, semua kabur, buram dan menghilang.

***

Aku terbangun di kegelapan, melihat sekeliling yang hanya sekitar beberapa langkah saja terlihat biru gelap agak kehitaman. Hampir tak ada selarik cahayapun terbias di sini. Mataku mulai membenahi bias cahaya yang bisa tertangkap, sepertinya ada di tengah ruangan yang asing, namun perkakasnya lengkap, ada meja, kursi dan beberapa tumpukan buku yang bisa kuraba dan kutebak dari jarak pandang dekat, berarti ini adalah sebuah kantor.

Lampu senter? Aku ingat ada korek di tasku, tapi dimana kantong hitam itu sekarang? Aduhh... saat tersadar dari pingsan tadi rasanya tak ada tas LV hitam di sekitarku.

“halooo..” teriakku pelan mencari sahutan dari orang-orang di luar sana.
Tak ada tanda-tanda jawaban ataupun respon. Aku mulai meraba-raba dinding sekitar berharap menemukan sakelar lampu. Tidak bisa, kutekan berkali-kalipun tak ada kedip cahaya lampu yang menyala, yah.. sialnya aku malam ini.

Kudengar derap langkah kaki berjalan mengetuk lantai dengan dasar sepatu yang keras, tapi dari mana? Serasa disekelilingku berbunyi karena suaranya yang menggema keras, aku berteriak lagi meminta pertolongan tapi tetap saja tidak ada jawaban.

“krosaaak” aku menendang bungkusan di lantai, haha akhirnya kutemukan tas beserta isinya, korek api berwarnakan kuning keemasan yang ukurannya sebesar jari telunjuk masih bersarang di dalam kantong hitam bermerk LV ini, kuambil dan kutekan tombol power untuk lampu sorotnya, tapi kejanggalan mulai terasa, lampu nya tidak mau menyala. Hanya ada satu cara lain, yaitu menyalakan api dari korek ini.

Aku bisa melihat sekeliling sekarang, pintu kubuka pelan sambil menjaga api tetap menyala, tas ku juga masih tergantung di siku tangan. Aku tak tau ini dimana, hanya saja aku mencoba berjalan lurus mengikuti arah jalan yang ada di hadapan mataku. Sepertinya ada petugas kebersihan di depan sana aku hafal seragam yang dia kenakan, sama persis dengan seragam petugas kebersihan di kantorku.

“Maaf tuan, dimanakah jalan keluar dari ruangan ini, aku ada urusan mendadak yang menharuskanku segera pulang” tak ada respon darinya selain tetap berdiri disana sekitar 7 langkah dari tempatku,

“apakah listrik pusat sedang padam? Tidakkah kantor ini punya generator?” masih tidak ada jawaban, aku mulai merasa aneh,

“tuan, apa kau bisa mendengarku?” Aku mulai menambahkan sekitar tiga langkah kedepan mendekatinya, posisinya yang berdiri membelakangiku membuatku semakin penasaran dan mendorongku untuk menepuk punggungnya untuk mengajukan beberapa pertanyaan yang tak kunjung dijawabnya.

Kutepuk punggungnya, kedua tangannya sibuk memegangi sesuatu di bagian dagunya, perlahan dia menoleh dan memperhatikanku hingga aku terperanjat kaku tak bisa bergerak dalam beberapa detik, mataku terpaku tak bisa menggerakan bolanya kekiri ataupun kekanan, kringatku mulai bercucuran lagi, bulir demi bulir terbentuk otomatis layaknya embun yang menempel di setiap ujung rumput, entah hawa dingin atau panas yang harusnya kurasakan, rasa mual mendadak yang mengocok isi perut membuatku merasa ingin muntah tapi tidak bisa, semuanya tertahan rasa yang tak bisa aku sibakkan dari pikiranku.

Tangan orang ini sibuk membenarkan rahang bawahnya yang jelas-jelas sudah lepas dari posisi seharusnya, darah segar memenuhi tangan kurusnya, warna merah tua kental mengucur bagaikan liur yang cukup deras, gumaman suaranya juga semakin mencekik pita leherku, seperti orang berkumur atau sejenisnya, baju bagian depannya sudah tak berwarna jelas tersiram oleh pekatnya darah yang terus mengucur.

Aku ingin berteriak sekencang-kencangnya namun rasa kaku mengunci rahang mulut dan tenggorokanku. Sepersekian detik aku berhasil mengedipkan mata dan saat itu semua kesadaranku kembali, aku berlari sekuat tenaga menjauh dari makhluk aneh yang baru saja kulihat, api korekku mati, dikegelapan aku berlari tanpa arah sambil sesekali memejamkan mata berharap saat kubuka aku sedang berada dalam kamarku. Tanpa kusadari ditengah pelarian, tanganku dicengkram oleh tangan lainnya yang aku tak tahu pemiliknya dan ditarik masuk ke salah satu ruangan di gedung gelap ini.
GAMBIR SERAWAK
Tag : Serba Serbi
0 Komentar untuk "The Elevator"

Back To Top